Tradisi Kajegan di Desa Krai Lumajang Tetap Lestari, Jadi Simbol Gotong Royong Masyarakat

  • Jun 04, 2026
  • Saiful Ridho
  • Sosial

KIM DESA KRAI, LUMAJANG – Budaya gotong royong masyarakat pedesaan hingga kini masih terus lestari melalui tradisi “Kajegan” yang hidup di tengah masyarakat Madura. Tradisi tersebut menjadi bentuk kebersamaan warga dalam membantu tetangga yang sedang membutuhkan tenaga banyak untuk berbagai pekerjaan.

Salah satu daerah yang hingga kini masih mempertahankan budaya tersebut berada di Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang. Di desa tersebut, tradisi Kajegan masih kerap dilakukan masyarakat saat ada warga yang membangun rumah maupun mengerjakan pekerjaan berat lainnya.

Oleh masyarakat setempat, tradisi gotong royong ini disebut Kajegan, yang secara garis besar mengandung arti mengajak atau mengundang warga untuk membantu pekerjaan bersama-sama.

Kajegan biasanya dilakukan saat warga membangun rumah, menurunkan genting, menggali pondasi, mengangkat material bangunan, hingga pekerjaan berat lainnya yang sulit diselesaikan sendiri.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat datang secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan. Warga saling membantu sebagai bentuk solidaritas sosial dan kepedulian antar tetangga yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Biasanya, warga yang membantu akan diberikan hidangan berupa nasi, lauk pauk, serta minuman oleh tuan rumah. Suasana makan pun dilakukan bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.

Di sejumlah desa di Kabupaten Lumajang yang memiliki kultur masyarakat Madura cukup kuat, tradisi Kajegan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadiran warga saat ada tetangga yang membutuhkan bantuan dianggap sebagai bentuk menjaga persaudaraan dan mempererat hubungan sosial di lingkungan desa.

Salah seorang warga menyebutkan bahwa Kajegan bukan sekadar membantu pekerjaan fisik, melainkan juga menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan di tengah perkembangan zaman yang semakin individualis.

"Mon bedeh tangga se ngabangon roma, ngeduk pondasi, ben nuronaghi genteng, biasanah tetangge e pentaen tolong dedih degik pas deteng nolongen." ujarnya.

Tradisi Kajegan juga dinilai menjadi kekuatan sosial masyarakat desa dalam menjaga kerukunan dan semangat gotong royong. Selain mempercepat pekerjaan, budaya tersebut mampu menumbuhkan rasa saling memiliki antarwarga.

Masyarakat berharap budaya Kajegan tetap dipertahankan oleh generasi muda agar nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan desa tidak hilang seiring perkembangan zaman.***